Sabtu, 18 November 2023

Cerpen, Florence9D

                  Senang mengenalnya

 Nama saya Niara, aku adalah anak SMP yang ada di salah satu kota aku, Bandung. Saya mempunyai seorang teman yang sangat humoris, sangat baik, dan pemaaf namanya adalah Laura. 

  Aku mengenalnya pada saat waktu itu aku sedang membaca buku di perpustakaan , tiba tiba dia tidak sengaja menjatuhkan 2 buku , pada saat itu tangan kanannya sedang diperban. Aku membantunya memungut bukunya dan mengajak dia duduk. Kami ngobrol dengan asik, tanpa disadari sudah hampir mau masuk, aku membawa dia kembali ke kelas bersama, ternyata dia adalah anak pindahan dari sekolah lain, jadi bisa dibilang aku adalah kenalan pertama dia disekolah ini. Ya setelah mengenalnya, kami istirahat setiap hari berdua, bahkan jika ada ulangan kami juga saling membocorkan soal  pada satu sama lain, bermain bersama, mengerjakan tugas bareng, apapun itu kami selalu melaluinya bersama. 

  Suatu hari, aku membawa temanku lalu mengenalinya deangan dia. Ya awal awalnya baik baik saja tidak ada yang salah. Akan tetapi semakin akhir maka aku semakin dicueki, dia lebih asik dengan teman yang saya kenalkan. 

Seperti aku mengajakinya nonton ke bioskop, akan tetapi dia berkata bahwa dia sudah menonton dengan temanku itu, setiap saja ajak keluar pasti jawabannya sudah janjian dengan dia, dan jika kita keluar dia selalu membawa teman ku yang itu , ketika jalan, mereka berdualah yang jalan di depan, sedangkan saya hanyalah dibelakang mereka yang tidak tahu ingin lakuin apa apa. Tiba tiba tali sepatu aku lepas, aku jongkok dan mengikatnya. Pada saat aku jongkok san melihat ke depan, melihat bahwa mereka mengenakan gelang persahabatan berdua. Ya melihat keadaan seperti ini , aku hanya berhenti melangkah mengikuti mereka, aku mundur dan menyadari bahwa dia lebih senang bersama temanku yang itu. Selamat tinggal dan aku senang mengenal mu dan menjadi teman baik walaupun hanya sementara saja. Senang pernah mengenal mu teman, walaupun hanya sesingkat ini pertemanan kita.

Jumat, 17 November 2023

cerpen - Alicia IXA

 

BANUN

 

    Bila ada yang bertanya , siapa makhluk paling kikir di kampung itu , tidak akan ada yang menyanggah bahwa perempuan ringkih yang punggungnya telah melengkung serupa sabut kelapa itulah jawabannya. Semula ia hanya dipanggil Banun. Namun , lantaran sifat kikirnya dari tahun ke tahun semakin mengakar , pada sebuah pergunjingan yang penuh dengan kedengkian , seseorang menambah kata “kikir” di belakang nama ringkas itu , hingga ia ternobat sebagai Banun Kikir. Konon , hingga riwayat ini disiarkan , belum ada yang sanggup menumbangkan rekor kekikiran Banun.

 

            Ada banyak Banun di perkampungan lereng bukit yang sejak dulu tanahnya subur hingga tersohor sebagai daerah penghasil padi kwalitet nomor satu itu. Pertama, Banun dukun patah-tulang yang dangau usangnya kerap didatangi laki-laki pekerja keras bila pinggang ataui pangkat lengannya terkilir akibat terlampau bergairah mengayun cangkul. Disebut-sebut , kemampuan turuntemurun Banun ini tak hanya ampuh mengobati patah-tulang orang-orangt tani , tapi juga bisa mempertautkan kembali lutut kuda yang retak akibat bendi yang dihelanya terguling lantaran sarat muatan. Kedua , Banun dukun beranak yang kehandalannya lebih dipercayai ketimbang bidan desa yang belum apa-apa sudah angkat tangan , lalu menyarankan pasien buntingnya bersalin di rumah sakit kabupaten. Sedemikian mumpuninya kemampuan Banun kedua ini , bidan desa merasa lebih banyak menimba pengalaman dari duku itu ketimbang dari buku-buku semasa di akademik. Ketiga , Banun tukang lemang yang hanya akan tampak sibuk pada hari Selasa dan Sabtu , hari berburu yang nyaris tak sekali pun dilewatkan oleh para penggila buru babi di berbagai pelosok. Di hutan mana para pemburu melepas anjing , disana pasti tegak lapak lemang-tapai milik Banun. Berburu seolah tidak afdol tanpa lemang-tapai bikinan Banun , yang hingga kini belum terungkap rahasianya.

 

            Tapi , hanya ada satu Banun Kikir yang karena riwayat kekikirannya begitu menakjubkan , tanpa mengurangi rasa hormat pada Banun-Banun yang lain , sepatutnyalah ia menjadi lakon dalam cerita ini.

 

            Di sepanjang usianya , Banun Kikir tak pernah membeli minyak tanah untuk mengasapi dapur keluarganya. Perempuan itu menanak nasi dengan cara menyorongkan seikat daun kelapa kering kedalam tungku , dan setelah api menyala , lekas disorongkannya pula beberapa keping kayu bakar yang selalu tersedia dibawah lumbungnya. Saban petang , selepas bergelimang lumpur sawah , daun-daun kelapa kering itu dipikulnya dari kebun yang sejak lama telah diri untuk tidak membeli minyak tanah guna menyalakan tungku. Sebab , daun-daun kelapa kering di kebunnya tiada bakal pernah berhenti berjatuhan.

 

            Hasil sawah yang tak seberapa itu hendak dibawa mati , Mak?” Tanya Rimah suatu ketika. Kuping anak gadis Banun itu panas karena gunjing perihal Banun Kikir tiada kunjung reda.

 

            Mak tak hanya kikir pada orang lain , tapi juga kikir pada perut sendiri,” gerutu Nami , anak kedua Banun.

 

            Tak usah hiraukan gunjingan orang! Kalau benar apa yang mereka tuduhkan , kalian tak bakal mengenyam bangku sekolah!” Naik pitamnya sih Banun.