Jumat, 17 November 2023

cerpen - Alicia IXA

 

BANUN

 

    Bila ada yang bertanya , siapa makhluk paling kikir di kampung itu , tidak akan ada yang menyanggah bahwa perempuan ringkih yang punggungnya telah melengkung serupa sabut kelapa itulah jawabannya. Semula ia hanya dipanggil Banun. Namun , lantaran sifat kikirnya dari tahun ke tahun semakin mengakar , pada sebuah pergunjingan yang penuh dengan kedengkian , seseorang menambah kata “kikir” di belakang nama ringkas itu , hingga ia ternobat sebagai Banun Kikir. Konon , hingga riwayat ini disiarkan , belum ada yang sanggup menumbangkan rekor kekikiran Banun.

 

            Ada banyak Banun di perkampungan lereng bukit yang sejak dulu tanahnya subur hingga tersohor sebagai daerah penghasil padi kwalitet nomor satu itu. Pertama, Banun dukun patah-tulang yang dangau usangnya kerap didatangi laki-laki pekerja keras bila pinggang ataui pangkat lengannya terkilir akibat terlampau bergairah mengayun cangkul. Disebut-sebut , kemampuan turuntemurun Banun ini tak hanya ampuh mengobati patah-tulang orang-orangt tani , tapi juga bisa mempertautkan kembali lutut kuda yang retak akibat bendi yang dihelanya terguling lantaran sarat muatan. Kedua , Banun dukun beranak yang kehandalannya lebih dipercayai ketimbang bidan desa yang belum apa-apa sudah angkat tangan , lalu menyarankan pasien buntingnya bersalin di rumah sakit kabupaten. Sedemikian mumpuninya kemampuan Banun kedua ini , bidan desa merasa lebih banyak menimba pengalaman dari duku itu ketimbang dari buku-buku semasa di akademik. Ketiga , Banun tukang lemang yang hanya akan tampak sibuk pada hari Selasa dan Sabtu , hari berburu yang nyaris tak sekali pun dilewatkan oleh para penggila buru babi di berbagai pelosok. Di hutan mana para pemburu melepas anjing , disana pasti tegak lapak lemang-tapai milik Banun. Berburu seolah tidak afdol tanpa lemang-tapai bikinan Banun , yang hingga kini belum terungkap rahasianya.

 

            Tapi , hanya ada satu Banun Kikir yang karena riwayat kekikirannya begitu menakjubkan , tanpa mengurangi rasa hormat pada Banun-Banun yang lain , sepatutnyalah ia menjadi lakon dalam cerita ini.

 

            Di sepanjang usianya , Banun Kikir tak pernah membeli minyak tanah untuk mengasapi dapur keluarganya. Perempuan itu menanak nasi dengan cara menyorongkan seikat daun kelapa kering kedalam tungku , dan setelah api menyala , lekas disorongkannya pula beberapa keping kayu bakar yang selalu tersedia dibawah lumbungnya. Saban petang , selepas bergelimang lumpur sawah , daun-daun kelapa kering itu dipikulnya dari kebun yang sejak lama telah diri untuk tidak membeli minyak tanah guna menyalakan tungku. Sebab , daun-daun kelapa kering di kebunnya tiada bakal pernah berhenti berjatuhan.

 

            Hasil sawah yang tak seberapa itu hendak dibawa mati , Mak?” Tanya Rimah suatu ketika. Kuping anak gadis Banun itu panas karena gunjing perihal Banun Kikir tiada kunjung reda.

 

            Mak tak hanya kikir pada orang lain , tapi juga kikir pada perut sendiri,” gerutu Nami , anak kedua Banun.

 

            Tak usah hiraukan gunjingan orang! Kalau benar apa yang mereka tuduhkan , kalian tak bakal mengenyam bangku sekolah!” Naik pitamnya sih Banun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar